Hak untuk Malas
Hak untuk Malas
sumber resensi : http://media.kompasiana.com/buku/2012/01/25/hak-untuk-malas-433691.html
Download Ebook (epub)
| Berat | 0.13 kg | |
| Tahun | 2008 | |
| Halaman | 76 | |
| Ukuran | 13x 18 cm | |
| Penerbit | Jalasutra |
Menyuntikan
hidrosianik kepada tubuhnya dan istri yang sangat dicintainya merupakan
hal terahir yang dilakukan laki-laki ini. Dalam surat bunuh diri yang ia
buat sebelum kejadian ia berkata:
“Sejak
bertahun-tahun lalu saya telah berjanji pada diri saya untuk tidak hidup
lebih dari 70 tahun. Saya telah memastikan saat untuk keberangkatan
saya meninggalkan kehidupan ini dan telah menyiapkan cara untuk
melaksanakan keputusan ini: sebuah suntikan hipodermik berisi
hidrosianik.
Saya mati dengan
kebahagiaan puncak berupa memiliki keyakinan bahwa dalam waktu sangat
dekat akan segera Berjaya tujuan yang untuk itu saya telah mengabdikan
diri saya sejak 45 tahun yang lalu. Hidup Komunisme Panjang umur
Internasional!”
Siapakah dia? Kenapa ia memiliki keberanian yang jarang dimiliki oleh manusia lainnya? Dialah Paul Lafargue seorang jurnalis sosialis Marxis revolusioner asal Perancis. Ia seorang kritikus sastra, penulis dan aktivis politik. Ia menikahi putri Karl Marx yaitu Laura dan mengahiri hidup bersama-sama.
Tulisan ini mencoba
meresensi karya Lafargue yaitu The Righ to Be Lazy yang diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia dengan Hak Untuk Malas. Buku ini dalam bahasa
Indonesia diterjemahkan oleh komunitas Merah-Hitam dan diterbitkan oleh
penerbit Jalasutra tahun 2008. Buku berukuran 13 x 18
sentimeter ini memiliki jumlah halaman 74 lembar. Meski bukunya tipis,
namun bagi orang yang awam terhadap Marxisme seperti saya tetap
dibutuhkan konsentrasi untuk memahami buku ini.
“Marilah kita malas
dalam segala hal kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk
bermalas malasan”. Perkataan Lessing ini dituliskan Lafargue untuk
membuka bab satu. Dalam bab ini Paul langsung menyerang dogma kerja.
Tidak hanya dogma kerja yang mengalienasi sebagaimana Karl Marx yang
mengutuk pola upahan. Namun melampauinya dengan kritik yang lebih
mendasar tentang kerja itu sendiri dimana menurutnya kerja merupakan
aktifitas manusia yang tidak masuk akal. Bahkan kerja bukan kebutuhan
organic manusia.
Dalam tulisan ini
Lafargue mempertanyakan mengapa walau sedemikian besar kerja telah
dilakukan kaum pekerja, tetap saja kebutuhan jasmaniah dan mental mereka
tidak terpenuhi. Kelaparan, kekurangan bahan sandang dan papan semakin
menggerogoti hidup mereka. Akapah kaum pekerja kurang rajin? Ataukah
justru mereka terlalu rajin.
Lafrgue menyoroti
betapa dahsyat dogma kerja diamini oleh kaum pekerja. Dia menuliskan
sesuatu yang penting saat menggambarkan bagaimana ketika krisis ekonomi
datang, kaum pekerja justru semakin giat dan berbondong bondong berbaris
di depan tempat untuk bekerja. Mereka enggan menggunakan kesempatan ini
untuk mendistribusikan barang-barang yang telah mereka produksi kepada
masyarakat umum secara gratis. Disini Lafargue terkesan
hendak menyiratkan bahwa masalah perubahan social terkait dengan
perubahan kesadaran. Pernyataan Lafargue ini secara tidak langsung
mengambil posisi berbeda dari ramalan Karl Marx bahwa Kapitalisme
berpotensi hancur bila krisis ekonomi datang. Sekali lagi kapitalisme
tetap kokoh. Bukan hanya karena system kapitalisme juga semaksimal
mungkin bertahan dan merubah diri, melainkan juga karena sanga actor
perubahan yaitu ploretariat belum tentu memiliki keberanian untuk
menyelesaikan penderitaanya.
Buku ini sangat
kontekstual didalamnya banyak berisi data dan fakta social terutama
realitas sosial revolusi Industri di Inggris dan Perancis awal abad ke
19 yang betul-betul menjadikan manusia seperti sapi perah. Lafargue
menceritakan bagaimana pekerja perempuan harus bersaing dengan mesin.
Pekerja perempuan hanya mampu membuat lima lubang jala rajut dalam satu
menit. Sedangkan mesin rajut sanggup membuat 30.000 lubang jala dalam
waktu yang sama. Kompetisi ini begitu absurd dan mematikan, namun tetap
saja para pekerja ini malah semakin giat melipatgandakan semangatnya bukan
mengalokasikan waktu untuk beristirahat. Tidak hanya pekerja perempuan,
anak-anak pekerja juga diceritakan sebagai korban dari dogma kerja yang
menindas manusia.
Penolakan Lafargue
terhadap kerja bukanlah gerak melarikan diri dengan menjadi parasit
dengan mengkritik kerja sekaligus bergantung kepada orang-orang yang
bekerja. Bukan itu, melainkan melihatnya sebagai bagian dari aktifitas
ciptan subjektif manusia. Dogma yang sengaja diciptakan oleh kepentingan
manusia yang ingin mengambil keuntungan dari manusia yang lain. Ia
ingin menyakinkan bahwa etika kerja kapitalis yang disebarkan kepada
kalangan luas itu buruk dan tidak bermanfaat. Tawarannya sudah jelas
bahwa kerja hendaknya menjadi “sekedar bumbu bagi senangnya
kebersantaian, suatu olahraga yang bermanfaat bagi organism manusia,
suatu hasrat yang beruna bagi organisme social”
Kerja menguras waktu,
tenaga dan ruang jelajah manusia. Padahal ada banyak sekali aktifitas
selain kerja. Dengan argument ini, Lafargue melakukan kontra atas hak
untuk bekerja (right to work) dengan membaliknya menjadi hak untuk
bermalas-malasan (the right to be lazy).
Buku yang ditulis
Lafargue di penjara Sainte Pelagie Perancis ini sudah berusia 129 tahun.
Konteks yang melatar belakangi lahirnya buku ini tentu berbeda dengan
konteks social saat ini. Data dan Fakta yang dikemukakannya juga sudah
usang. Namun kondisi para pekerja yang diceritakannya memiliki benang
merah yang hampir sama dengan nasib pekerja saat ini. Berbagai macam
berita setiap hari kita dapatkan tentang nasib para pekerja apakah di
dalam negri maupun di luar negeri. Belum ada perubahan yang berarti,
bahkan bila melihat nasib para pekerja migrant perempuan yang saat ini
nasibnya mengenaskan rasanya kita mesti kembali memeriksa dogma kerja
yang melekat erat dibenak kita. Dogma yang diciptakan
karena kepentingan para pemilik modal yang bisa menyetir bahkan pemimpin
negri ini. Jadi kenapa kita tidak setujui saya usul Lafargue ini bahwa
Malas merupakan Hak!
sumber resensi : http://media.kompasiana.com/buku/2012/01/25/hak-untuk-malas-433691.html
Download Ebook (epub)

Comments
Post a Comment
. . . . . . . . . Komentar anda adalah kontribusi berarti bagi kami