Filosofi Kopi
Judul : Filosofi Kopi
Penulis : Dee
Dee adalah sebuah tangkisan: ia membuktikan tak ada 'sastra wangi'. Istilah ini bagi saya sebuah cemooh orang laki-laki terhadap karya-karya sastra Indonesia mutakhir, yang menarik perhatian khalayak dan ditulis sejumlah perempuan. Dee adalah sebuah tangkisan, bukti bahwa cemooh itu tak adil. Tulisannya, seperti tulisan sejumlah penulis perempuan lain, tak ada hubungannya dengan parfum, bedak, lulur, dan daya tarik erotis.
Jika ada ys.ng memikat pada Dee adalah cara dia bertutur: ia peka pada ritme kalimat. Kalimatnya berhenti atau terus bukan hanya karena isinya selesai atau belum, tapi karena pada momen yang tepat ia menyentuh, mengejutkan, membuat kita senyum, atau memesona. Kepekaan pada ritme itulah yang menyebabkan sebuah tulisan berarti—bukan sederet pesan dibungkus rokok Dji Sam Soe, bukan pula sepotong tesis doktorat.
Tak kalah penting: ritme itu tak mendayu-dayu. Juga tidak ruwet, bahkan rapi. Dee peduli ejaan dan mematuhi gramar (ia tak akan pernah salah untuk membedakan mana 'di' yang awalan dan mana pula 'di' yang preposisi), ketika pada saat yang sama dengan luwes, tanpa terasa dibikin-bikin, memasukkan kata asing ke dalam kalimatnya, baik melalui asimilasi ('meng-kondens) atau tidak ('breach of contract'), juga ketika ia memasukkan kata 'pipis* atau 'curhat' atau dialog bahasa Jawa.
Tidak ruwet, bahkan terang benderang, tak berarti tanpa isi yang menjentik kita untuk berpikir. Aforismenya yang orisinal menunjukkan kemampuan untuk tanpa bersusah payah menggabungkan konseptualisasi dengan metafor, yang abstrak dengan yang konkret. "Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh", begitu salah satu kalimat dalam Surat Yang Tak Pernah Sampai.
Pada Dee ada seorang eseis unggul yang bersembunyi, menunggu, di balik seorang pencerita. Ada sebuah kata bahasa Inggris, wit, yang mungkin bisa diterjemahkan dengan ungkapan cerkas'. Kumpulan prosa ini menghidupkan yang cerkas dalam sastra Indonesia.
| Goenawan Mohamad |
Penulis : Dee
Dee adalah sebuah tangkisan: ia membuktikan tak ada 'sastra wangi'. Istilah ini bagi saya sebuah cemooh orang laki-laki terhadap karya-karya sastra Indonesia mutakhir, yang menarik perhatian khalayak dan ditulis sejumlah perempuan. Dee adalah sebuah tangkisan, bukti bahwa cemooh itu tak adil. Tulisannya, seperti tulisan sejumlah penulis perempuan lain, tak ada hubungannya dengan parfum, bedak, lulur, dan daya tarik erotis.
Jika ada ys.ng memikat pada Dee adalah cara dia bertutur: ia peka pada ritme kalimat. Kalimatnya berhenti atau terus bukan hanya karena isinya selesai atau belum, tapi karena pada momen yang tepat ia menyentuh, mengejutkan, membuat kita senyum, atau memesona. Kepekaan pada ritme itulah yang menyebabkan sebuah tulisan berarti—bukan sederet pesan dibungkus rokok Dji Sam Soe, bukan pula sepotong tesis doktorat.
Tak kalah penting: ritme itu tak mendayu-dayu. Juga tidak ruwet, bahkan rapi. Dee peduli ejaan dan mematuhi gramar (ia tak akan pernah salah untuk membedakan mana 'di' yang awalan dan mana pula 'di' yang preposisi), ketika pada saat yang sama dengan luwes, tanpa terasa dibikin-bikin, memasukkan kata asing ke dalam kalimatnya, baik melalui asimilasi ('meng-kondens) atau tidak ('breach of contract'), juga ketika ia memasukkan kata 'pipis* atau 'curhat' atau dialog bahasa Jawa.
Tidak ruwet, bahkan terang benderang, tak berarti tanpa isi yang menjentik kita untuk berpikir. Aforismenya yang orisinal menunjukkan kemampuan untuk tanpa bersusah payah menggabungkan konseptualisasi dengan metafor, yang abstrak dengan yang konkret. "Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh", begitu salah satu kalimat dalam Surat Yang Tak Pernah Sampai.
Pada Dee ada seorang eseis unggul yang bersembunyi, menunggu, di balik seorang pencerita. Ada sebuah kata bahasa Inggris, wit, yang mungkin bisa diterjemahkan dengan ungkapan cerkas'. Kumpulan prosa ini menghidupkan yang cerkas dalam sastra Indonesia.
| Goenawan Mohamad |
Download
ePub / PDF

Comments
Post a Comment
. . . . . . . . . Komentar anda adalah kontribusi berarti bagi kami