Pohon Tanpa Akar

Judul : Pohon Tanpa Akar
Penulis : Syed Waliullah
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Kemiskinan adalah gejala sosial yang sangat poten­sial untuk melahirkan berbagai bentuk keberingas­an sosial dan perilaku saling membunuh. Terlebih lagi jika dimatangkan oleh padatnya penduduk, ku­rang tersedianya lahan yang subur untuk menyuapi mulut mereka, serta bencana alam. Namun, di lain pihak, keadaan seperti itu juga sering mendorong manusia untuk melarikan diri ke bidang agama, "sampai taraf kecanduan atau fana­tik. Majid, tokoh utama novel ini, justru memanfa­atkan "kelemahan massa" ini untuk kepentingan pribadinya. Apalyang terjadi kemudian? Silahkan simak sendiri noyel yang amat memikat ini, yang ditulis oleh penulis Bangladesh terkemuka, Syed Waliullah. Pohon tanpa Akar, suatu cermin yang amat jelas memantulkan Wajah-wajah manusia yang dilanda penderitaan dan kesengsaraan.

***

Penerjemahan karya sastra dari berbagai negeri Asia akhir-akhir ini meningkat; kita pun semakin sadar bahwa ternyata tradisi besar kesusastraan di benua ini memang tidak pernah berakhir. Karya terjemahan yang berasal dari Jepang, India, Thailand, Pakistan, Cina, Parsi, Filipina, dan lain-lain yang kini mulai mudah didapatkan di pasar menunjukkan beberapa hal yang penting bagi pengertian kita tentang tradisi itu-sesuatu yang sudah sejak lama berada dalam bayangan pengertian kita tentang tradisi sastra Eropa. Pertama, kita semakin merasa dekat dengan karya sastra Asia, yang sebagian besar memang ternyata lebih akrab-dalam pengertian mudah dihayati-dibandingdengan sebagian besar karya sastra Eropa yang selama ini kita kenal. Kedua, dijajarkan dengan karya sastra Eropa, ternyata tradisi kesusastraan Asia lebih banyak ragamnya. Jika mitologi Yunani dan Alkitab merupakan sumber sastra Eropa dan landasan utama pemahamannya, tidak ada sistem tunggal dalam mitologi maupun agama yang bisa merupakan sumber pemahaman sastra Asia. Barangkali novel boleh dianggap sebagai bentuk sastra Eropa yang telah berpengaruh terhadap tradisi penulisan sastra Asia, namun harus diakui bahwa yang dikandung dalam bentuk itu sangat beragam. Keberagaman itu pada gilirannya menuntut adanya sikap terbuka dan kemauan baik kita agar bisa mengapresiasikannya. Ini sebenarnya merupakan paradoks: di satu pihak karya sastra Asia itu memang terasa lebih akrab, namun di pihak lain ia menuntut kemauan baik yang lebih kuat untuk bisa menghayatinya. Kita sudah sejak lama menyediakan kemauan baik itu untuk memahami sastra Eropa; dengan bersemangat selama ini kita mempelajari kebudayaan Eropa dengan segala seluk-beluknya agar bisa menghayati karya sastranya; kemauan baik yang lebih besar lagi dituntut untuk menguasai berbagai segi kebudayaan Asia yangsangat banyak ragamnya itu. Sejumlah novel dari Jepang, India, Filipina, Cina, dan lain-lainnya yang kini semakin banyak tersedia di pasar memerlukan persiapan pemahaman yang berbeda-beda. Dan penerbitan novel karya Syed Waliullah dari Bangladesh ini pasti juga menimbulkan masalah pemahaman yang khusus.

Harus diakui bahwa selama ini pengetahuan kita tentang sastra Bangladesh, yang pernah menjadi bagian Pakistan dan yang erat kekerabatannya dengan India, tidaklah begitu banyak. Negeri Asia Selatan yang lebih banyak kita kenal sebagai salah satu negeri termiskin di dunia ini terasa lebih jauh jaraknya dari negeri-negeri di Eropa yang telah melahirkan sastrawan-sastrawan seperti Camus, Joycc, Kafka, dan Silone karena memang boleh dikatakan tidak pernah diperkenalkan kepada kita. Namun, jika kita membaca karya Waliullah ini, akan ternyata bahwa negeri il u sangat dekat dengan kita-antara lain pengaruh kuat agama Islam di sana. Kenyataan itu tentu lebih memudahkan kita mengapresiasikannya dibanding, misalnya, dengan jika kita menghadapi novel-novel Jepang karya Kawabata alau Mishima. Tetapi toh kemauan baik itu harus tetap kita tumbuhkan sebab ada beberapa segi kebudayaannya vang harus kita kuasai. Untunglah bahwa teknik penulisan yang ditempuh Waliullah dalam novel ini relatif memudahkan pemahaman kila. Teknik itu mungkin saja agak aneh-kalau tidak bisa dikatakan terlalu sederhana-dalam bandingannya dengan kebanyakan karya sastra Eropa modern. Waliullah, mungkin tidak sengaja dan tidak disadarinya, telah "menjepit" dunia fiksi ciptaannya dengan informasi faktual tentang latar belakang yang juga sekaligus menjadi latar novelnya. Di bagian awal Pohon tanpa Akar ini dibentangkannya gambaran tentang keadaan geografis dan kepen-dudukan Bangladesh, negeri yang menjadi latar belakangnya. Negeri itu sangat padat penduduknya, tanahnya sudah diolah selama berpuluh-puluh generasi tanpa mendapat perawatan semestinya sehingga tidak lagi bisa menyediakan cukup penghidupan yang layak bagi penghuninya. Di negeri yang hijau, berlangit biru, yang tidak berbatu-batu itu, penduduknya menyandang kegelisahan yang berkepanjangan sebab puluhan juta penduduknya tetap lapar. Rasa tak tenteram itu telah mendorong sebagian penduduknya untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendapatkan sekedar minuman dan makanan, sekali sehari pun cukuplah. Dalam keadaan demikian tidaklah mengherankan jika kemudian mereka sangat sering bertengkar, bahkan saling membunuh; bahkan terhadap keturunan pun mereka tidak begitu peduli— lantaran sudah begitu banyak yang dilahirkan. Itu semua terjadi karena negeri yang begitu hijau dan subur itu tidak bisa lagi menyediakan cukup pangan bagi penghuninya: terlalu banyak yang hidup di sana, berjejal di tanah yang sudah sejak lama diperas habis-habisan. Dan, kesimpulan sang novelis, terbatasnya pangan berarti suburnya agama; kesimpulan inilah sebenarnya yang menggarisbawahi tema Pohon tanpa Akar ini.

Di akhir novel ini pun Waliullah menyisipkan informasi geografis tentang Bangladesh. Negeri yang dihidupi oleh beberapa sungai itu harus pula sering menghadapi bencana yang ditimbulkan oleh sumber penghidupan itu: suatu paradoks yang mau tak mau harus diterima rakyatnya. Topan dan banjir besar yang tidak jarang menjadi bencana bagi sebagian besar penduduk, merupakan kunci bagi penutup cerita rekaan ini. Banjir merupakan misteri alam, setidak-tidaknya bagi sebagian besar penduduk, yang menegaskan misteri jalan hidup tokoh utama Pohon tanpa Akar. Tema yang menguasai novel ini menjadi tajam berkat teknik penulisan Waliullah yang tampaknya tak pernah kerancuan fiksi dan fakta dalam karyanya. Dengan demikian, konsep tentang fiksi yang tentunya berasal dari Eropa modern dikembangkan berdasarkan tradisi penulisan yang mungkin sudah ada di negeri itu sejak entah kapan.

Rangkaian peristiwa yang disusun Waliullah sederhana saja: Majid, seorang penyebar agama Islam, melakukan perjalanan dari desa ke desa lain untuk menjalankan tugasnya. Pada suatu hari ia sampai di sebuah desa yang lebih subur dibanding desa-desa sekitarnya. Ia mengatakan bahwa ia telah mendapat petunjuk gaib untuk pergi ke desa itu; ternyata, menurutnya, di desa itu ada sebuah mazar, makam orang suci, yang selama ini terlantar. Kebetulan memang ada kuburan terlantar di desa itu, yang kemudian ia bersihkan dan jaga baik-baik, tetapi sebenarnya ia berbohong bahwa itu makam orang suci. Majid rupanya sudah letih berkelana menyebarkan agama dan berniat tinggal di desa yang relatif kaya itu untuk menyebarkan agama-dengan memanfaatkan makam tersebut sebagai alat untuk mempengaruhi penduduk.

Ia pun, dalam waktu yang singkat menanamkan pengaruhnya di desa itu dengan bertindak sebagai penjaga makam suci menyebarluaskan perintah Allah yang tersurat dalam Al-Qur'an. Majid bersahabat dengan tuan tanah desa; ia pun kawin dengan wanita yang bekerja keras membantunya dalam kegiatan sehar har Dengan kebohongannya mengenai makam suci itu, ia pun berhasil menanamkan rasa takut dan hormat di kalangan warga desa. Ia, boleh dikatakan, hidup tenteram. Tetapi ia harus mempertahankan ketenteramannya itu dalam tegangan antara kebohongan dan kebajikan: ia berbohong untuk maksud penyebaran agama. Kedudukannya yang tampak kokoh itu ternyata sebenarnya goyah; ia merasa terancam ketika di desa tetangganya datang seorang suci lain yang berhasil memikat perhatian warga desanya juga, termasuk istri tuan tanah sahabatnya. Kegoyahan kedudukannya itu terbukti dari "balas dendam"nya terhadap wanita itu ketika NJajid dimintai tolong si tuan tanah untuk mengobati kemandulan istrinya. Dengan kedok agama, ia menyiksa wanita itu sampai akhirnya diusir dari rumah suaminya.

Rupanya kemandulan itu menimpa istri Majid sendiri, Rahima. Untuk mengisi kekosongan hidupnya, Majid memutuskan untuk kawin lagi dengan seorang gadis remaja, Jamila; gadis yang disangkanya penurut itu ternyata bandel. Majid pun menyiksa istri mudanya itu dengan mempergunakan agama dan makam suci itu sebagai alat Tindakannya terhadap istrinya itu berakibat sangat buruk, Jamila sakit berat. Pada saat yang bersamaan datanglah bencana alam berupa topan yang disusul banjir besar yang memusnahkan tanah pertanian desanya dan mengancam kehidupan umatnya. Pada saat itulah ujian sesungguhnya disodorkan kepada Majid: ia bisa memilih lari dari makam suci itu untuk menyelamatkan diri atau bertahan di sana untuk mem per ta ha n ka n kebcradaa n nya sebaga i ora ng suci yang selama ini disegani orang, dengan risiko terbawa banjir itu. Yang diputuskannya adalah menyelamatkan kedua istrinya dengan menitipkannya di rumah tuan tanah sedangkan ia sendiri memilih kembali ke makam suci, yakni kebohongan yang telah mengokohkannya sebagai teladan warga desa-yang sekaligus juga merupakan alat yang memudahkannya menyebarluaskan agama. Jadi sebenarnya apakah yang ia pilih: kebohongan atau kebajikan? Atau keduanya tidak bisa lagi dipisah-pisahkan dalam diri Majid—dalam diri kita semua?

Kerangka cerita novel ini memang sederhana, namun perasaan-perasaan yang terjadi di dalamnya teramat rumit. Segi inilah yang sering menonjol dalam karya sastra Asia umumnya, yang disampaikan secara tersirat namun dengan segera bisa kita hayati. Jalinan perasaan yang rumit antara Majid, Rahima, dan Jamila sangat mengharukan; demikian pula hubungan-hubungan perasaan antara Majid, Khaliq si tuan tanah, dan istrinya yang mandul itu. Bahkan pada dasarnya hubungan batin antara Majid dan warga desa yang dibohonginya dan sekaligus diajarnya untuk bertakwa kepada Tuhan itu sangat rumit dan khas Asia. Hubungan-hubungan perasaan yang banyak seginya itulah yang terutama menyebabkan novel Waliullah ini bermanfaat untuk dibaca.

Novel ini barangkali tidak bisa dihayati berdasarkan konsep dan teori sastra Eropa, tetapi pasti bisa direnungi dengan pikiran dan perasaan kita—yang lebih akrab dengan inti masalahnya. Dan penerbitan novel Bangladesh ini akan mempertajam pengetahuan kita mengenai tradisi sastra Asia yang beragam itu.

SAPARDl DJOKO DAMONO





Tentang Penulis 
 
Syed Waliullah lahir di wilayah Bengal yang kemudian disebut negara Bangladesh pada tahun 1922. Ia mulai me­ngarang sejak usia remaja. Kumpulan cerita pendeknya yang pertama diterbitkan ketika ia masih menjadi maha­siswa di Universitas Calcutta. Ia mengarang cerita san­diwara, cerita pendek dan novel. Pada tahun 1961 ia men­dapat penghargaan dari Akademi Bengali untuk sumba­ngannya pada sastra Bengali.



 

Download







Comments

Popular posts from this blog

Cara Mudah Membangun e-Library

Anna Karenina Jilid 1 & 2 - Leo Tolstoy

BONGKAR GUDANG e-Book

Pangeran Bahagia - The Happy Prince and Other Stories

Kejahatan dan Hukuman - Fyodor Dostoyevsky