Pendidikan Popular - Membangun Kesadaran Kritis ( Edisi Tahun 2010) Penyunting : Mansour Fakih, Roem Topatimasang, dan Toto Rahardjo
Judul : Pendidikan Popular - Membangun Kesadaran Kritis (
Edisi Tahun 2010)
Penyunting : Mansour Fakih, Roem Topatimasang, dan Toto Rahardjo
Penerbit : INSISTPress
Versi eBook : unofficial
* silahkan beli buku hardcopy asli atau ebook asli untuk kualitas layout yg lebih baik dan isi ebook yg lebih lengkap
Edisi Tahun 2010)
Penyunting : Mansour Fakih, Roem Topatimasang, dan Toto Rahardjo
Penerbit : INSISTPress
Versi eBook : unofficial
Belajar dari realitas atau pengalaman yang
dipelajari atau bukan “ajaran” (teori, pendapat, kesimpulan, wejangan,
nasehat, khotbah, pidato dan sebagainya) dari seseorang, tetapi keadaan
nyata masyarakat atau pengalaman seseorang atau sekelompok orang
tertentu yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut.
Akibatnya tidak ada otoritas pengetahuan
seseorang lebih tinggi dari yang lainnya. Keabsahan pengetahuan
seseorang ditentukan oleh pembuktiannya dalam realitas tindakan atau
pengalaman langsung, bukan pada retorika teoritik atau “kepintaran
orang” belaka.
***
Pengantar Penyunting*
“Buku ini dirancang berdasarkan
pengalaman para Pemandu/Fasilitator maupun pelaku dalam menyelenggarakan
proses belajar bersama masyarakat. Seyogyanya buku ini tidak harus
dibaca dari awal sampai akhir. Anda bisa memulai dari lembar mana saja
sebab rancangan buku ini memang dimaksudkan hanya sebagai alat bantu
proses, dan mendorong sesuatu yang nyata. Buku ini bukanlah ‘kitab suci’
yang tidak diperkenankan untuk diubah. Di sisi lain, buku ini juga
dapat digunakan sebagai pendukung dalam rangka penyelenggaraan
proses belajar, terutama model-model partisipatif. Model tersebut
didukung oleh pemikiran dan konsep yang detail. Walaupun buku ini
mengandung banyak catatan untuk para fasilitator pendidikan rakyat,
tetapi buku ini juga bisa dinikmati sebagaimana buku bacaan lainnya oleh
siapa saja.
Jika Anda Pemandu/Fasilitator yang
berpengalaman, Anda akan tahu bahwa tidak ada proses belajar yang tidak
menyenangkan. Setiap terlibat dalam proses belajar bersama merupakan
waktu yang baik untuk mencoba sesuatu yang baru tentang manajemen
dinamika kelompok, dan tentang kepentingan anda juga.
Jika Anda baru berlatih, jangan hiraukan
dan tidak perlu khawatir didorong agar mampu dengan kesadarannya sendiri
memilih peran dalam masyarakat. Bahkan secara lebih jauh, dalam
kerangka apakah dan di mana posisi pendidikan itu? Sering kali proses
belajar hanya untuk belajar, bukan untuk apa-apa. Apakah proses belajar
dimaksudkan sebagai upaya proses perubahan?
Terlepas dari perdebatan pemaknaan
terhadap praktik pendidikan, peranan pendidikan atau proses belajar
mengajar itu sendiri sering menjadikan pesertanya justru tidak mampu
mencapai tujuannya manakala teknik, metode, dan pendekatan filosofi yang
digunakan tidak tepat. Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal itu
terjadi, salah satunya adalah tidak dilibatkannya peran, pengalaman,
dan pengetahuan peserta (warga belajar) tersebut. Pada konteks ini
muncul satu metode pendidikan yang mengedepankan pendekatan participatory pesertanya
sebagai subjek, bukan sebagai objek yang harus diceramahi. Peserta
menjadi seorang partisipan yang diharapkan terlibat secara utuh dan
penuh dalam proses pendidikan. Konsep yang dianut dalam metode seperti
ini menggunakan pendekatan pendidikan untuk orang dewasa (adult education) yang semua materi pendidikannya berbasiskan pengalaman dan pengetahuan partisipan itu sendiri.
Buku Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis
ini dimaksudkan untuk mengurai pengalaman para pengguna
metode pendidikan partisipatif kepada para fasilitator lain atau yang
sedang belajar menjadi fasilitator masyarakat. Dalam proses
penyusunan naskah buku ini memang sempat muncul pergumulan ketika
ditemukan kontradiksi antara semangat ingin membukukan pengalaman agar
bisa diambil pelajarannya oleh pengguna buku ini dengan idealisme
untuk senantiasa menggunakan prinsip-prinsip partsipatif dalam semua
media pendidikan.
Untuk itu buku ini seyogyanya ditempatkan
sebagai media pendidikan, karena bagaimana mungkin menerapkan prinsip
partisipatif jika saat penyusunannya sudah meletakkan segala-galanya
secara ketat; rumusan, model, pola, atau teknik bahkan tujuan
menyelenggarakan pendidikan.tentang elemen-elemen buku ini, seperti
halnya saat memfasilitasi proses belajar bersama yang efektif pada waktu
pertama, atau kedua, atau ketiga. Proses improvisasi dan pengembangan
kemampuan Anda sebagai fasilitator tidak akan pernah selesai. Jalan
terbaik adalah segera memulai dan belajar mengerjakan secara langsung,
berangkat dari persoalan yang ada. Pengalaman yang diperoleh dari kritik
diri sendiri, selalu akan berguna bagi proses ditemukannya
pengalaman dan ide-ide baru.
Semua pengetahuan akhirnya merupakan
proses belajar. Setiap individu akan mengalami perbedaan dalam hal
proses dan standar. Satu individu mungkin belajar lebih baik lewat
membaca dan ikut dalam aktivitas, bahkan akan lebih kuat lagi kalau
menjadi bagian dari warga belajar itu sendiri. Jika kita memperhatikan
pelajaran kita, peran Anda sebagai fasilitator adalah membantu orang
lain mengidentifikasi diri mereka sendiri dan mengumpulkan hal yang
diperlukan, prioritas dan potensi yang dimiliki. Dengan media yang ada,
Anda berperan membantu dan sekaligus dibantu warga belajar untuk
mengembangkan kemampuan secara partisipatif.
Selain persoalan-persoalan teknis
menyangkut proses belajar bersama secara partisipatif, buku ini di
dalamnya berisikan ajakan untuk mempergumulkan soal pemikiran,
praktik-praktik dan sistem belajar yang ada. Karena tak dapat dipungkiri
bahwa ada perbedaan dalam penyelenggaraan proses belajar—bagaimana
memaknai pendidikan; ada yang lebih menekankan pencapaian hasil, ada
juga yang tekanannya justru lebih pada proses. Pada sisi hasil, karena
pengaruh paradigma yang dianut, tanpa disadari prosesnya justru
menjinakkan warga belajar, padahal tujuannya adalah memberdayakan. Dalam
pemaknaan yang lain, praktik pendidikan lebih banyak memberikan
pengetahuan dan tidak semata meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan
sebagai penunjang peran dalam masyarakat. Penyelenggaraan
pendidikan lebih diarahkan agar orang yang mengikuti pendidikan tidak
sekadar mengembangkan keterampilan penunjang peran, peserta belajar
justru di situlah kontradiksinya apabila Anda tidak memprosesnya,
tidak mengolahnya, bahkan hanya menelan mentah-mentah bahan buku
ini ketika mau dipraktikkan.
Dengan menyadari keadaan seperti itu,
akhirnya penyusunan bagian-bagian dari buku ini dengan sadar selalu kami
bandingkan dan kaitkan dengan pengalaman. Buku ini memang bukan seperti
supermi yang tinggal diseduh dan langsung bisa dinikmati. Walaupun
banyak tulisan tentang prinsip atau kaidah, media, hingga manajemen
penyelenggaraan pendidikan dengan gaya bertutur dan terkesan seperti
berteori, namun sebenarnya sedang tidak semata-mata berteori, karena
justru pada saat itulah sesungguhnya sedang terjadi proses menemukan
teori dari pengalaman yang dialami selama ini. Oleh karena itu beberapa
tulisan sengaja diolah di sana-sini untuk dipadukan dengan pengalaman
nyata sehingga membentuk struktur susunan pengalaman.
Mudah-mudahan antara tujuan pendekatan
pendidikan partisipatif untuk memanfaatkan basis pengalaman partisipan
yang menjadi ide dasar penyusunan buku ini dapat bertemu pada jalur yang
sama; yakni pengalaman yang terstruktur (structured experience).”
*Mansour Fakih, dalam pengantar, hlm. vii-x.
* silahkan beli buku hardcopy asli atau ebook asli untuk kualitas layout yg lebih baik dan isi ebook yg lebih lengkap




Comments
Post a Comment
. . . . . . . . . Komentar anda adalah kontribusi berarti bagi kami