LABA-LABA MEDIA [HIDUP DALAM GALAKSI INFORMASI] MENURUT PEMIKIRAN MANUEL CASTELLS
Judul : LABA-LABA MEDIA [HIDUP DALAM GALAKSI INFORMASI] MENURUT PEMIKIRAN MANUEL CASTELLS
Penulis : Adeline M. Tumenggung
Editor : Ignatius Haryanto
Penerbit : Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)
Versi eBook : unofficial
TERKY EAGLETON, raksasa teori kebudayaan dan veteran gerakan mahasiswa tahun 1968, masih menyalak. Dalam bukunya terbaru, After Theory (2003), ia melancarkan kritik pedas kepada para intelektual yang telah membawa refleksi kebudayaan terperosok ke dalam "narsisisme identitas", seperti yang menandai Cultural Studies dewasa ini. Beginilah ia menunjuk masalahnya:
"Persis di saat para teoretisi kultural berpikir kecil-lokal, sejarah mulai bertindak global."'Bertindak lokal, berpikir global' telah menjadi slogan kaum progresif. Soalnya adalah, kita hidup dalam dunia di mana kaum kanan-konservatif bertindak global, tetapi kaum progresif malah justru berpikir lokal. Persis di saat grandnar- rative globalisasi kapitalis berderap sambil meninggalkan bangkai-bangkai korban yang berceceran di seluruh planet, para intelektual progresif bahkan berhenti berpikir dalam terminologi politik".
Dengan itu refleksi kebudayaan sedang menggali kuburnya sendiri. Mengapa hal itu menjadi persoalan? Jawab Eagleton: karena dengan itu refleksi kebudayaan memisahkan persoalan 'kultur' dari kinerja 'kekuasaan'. Dan dengan berkutat pada masalah semiotika serta keterpesonaan pada citra, refleksi kebudayaan melarikan diri dari diagnosa tentang fakta. Tentu saja hasilnya hanyalah fatamorgana. Terhadap kecenderungan itu, Eagleton menunjukkan arah yang perlu ditempuh refleksi kebudayaan ke depan: "teori kultural mesti mulai berpikir ambisius lagi". Maksud Eagleton, refleksi kebudayaan perlu mengayunkan kembali pisau analisanya untuk membedah persoalan-persoalan fundamental, dengan lingkup cakupan yang luas, dan bukan bergenit-genit dengan citra sesaat iklan, voyeurisme pada selebriti, atau fiksasi pada gaya-hidup yang didasarkan pada identitas, persis seperti isi lembar-lembar koran kita di akhir pekan. Kecenderungan terakhir itu bukanlah refleksi kebudayaan, melainkan hanya simptom "kekosongan intelektual" (intellectual vacuity) para wartawan.
Akan tetapi, kepada siapa kita dapat berguru untuk mengubah kecenderungan itu? Buku ini adalah salah satu panduan baik untuk agenda itu. Ditulis oleh seorang praktisi media, dan isinya dipertanggungjawabkan di depan komunitas akademis,
buku ini secara khusus diterbitkan sebagai gugatan kepada para praktisi, pengamat, pemikir, dan siapa saja yang terlibat dalam kinerja media. Isi buku ini merupakan hasil pembacaan kreatif atas tiga karya besar Manuel Castells, seorang pemikir sosial dan tokoh berbagai gerakan perubahan. Dalam setiap proses memahami tersimpan laku menemukan relevansi. Dalam buku ini, penulis membidikkan relevansi itu pada kinerja semua bidang media, dari radio sampai televisi, dari koran sampai teknologi dotcom.
Jika kita ingin memahami masyarakat dewasa ini dengan tetap setiap pada agenda progresif, caranya bukan seperti yang ditempuh para postmodernis - yaitu melarikan diri dari brutalitas fakta dan bersembunyi pada -text, citra, dm simulacra - melainkan dengan bertanya context apa yang telah membuat text tampak sebagai realitas otonom. Jawabnya adalah 'masyarakat jaringan' (network society). Dunia kira dewasa ini merupakan suatu masyarakat jaringan. Apa yang dimaksud kurang- lebih dapat disederhanakan begini. Bila A terkait dengan N, sedangkan N terkait dengan C, padahal C terkait dengan Y, dan seterusnya, maka network society merupakan gejala di mana proses penentuan berbagai hal tidak lagi terletak terutama pada A, C, N, atau Y, melainkan locus penentuan berbagai hal tersebut terletak pada corak kaitan itu sendiri (network). Dengan bahasa metafor yang lugas, locus penentu tidak lagi terutama terletak pada si laba-laba, melainkan pada jaring laba-laba. Atau, dalam bahasa Castells, "the power offlows takes precedence over the flows of power"?
Apa yang dimaksud dengan "penentuan berbagai hal" menyangkut semua bidang hidup kita: pengalaman batin, proses produksi dan konsumsi, cara manajemen, jenis-jenis acara televisi, pengandaan selera film dan musik, gagasan budaya, corak kekuasaan, dan sebagainya. Dari mana pergeseran itu muncul? Dari pekawinan antara revolusi teknologi informasi dan kinerja kapitalisme. Itulah yang menjelaskan mengapa dalam tata ekonomi global dewasa ini "uang hampir sepenuhnya terlepas dari proses produksi riil.... dengan meloloskan diri ke dalam labirin jejaring interaksi elektronis canggih yang bahkan tidak dimengerti manajernya sendiri". Apapun "yang dikumpulkan sebagai keuntungan (dari produsen, konsumen, teknologi, alam, dan institusi) disalurkan kembali ke meta- jaringan arus finansial itu..."; dan "hasilnya nol: kerugian membayar kepada keuntungan".
Itulah persis kecenderungan yang secara fatal juga sedang menandai refleksi kultural dewasa ini, seperti ditunjuk Eagleton. Dengan makin berkutat dalam semiotika, penanda (signifier), citra, ataupun simulacra, para pemikir kultural kemudian menyalurkan hasil tafsirannya bagi proses pembentukan meta-penanda selanjutnya. Hasilnya, dalam bahasa Eagleton, "karena takut fakta, mereka bersembunyi dalam fantasi".
Buku ini berkisah tentang sesuatu yang lebih khusus dalam proses itu. Seakan setia pada namanya, media (Latin: medium g pengantara/perantara publik) juga merupakan 'perantara' utama proses itu. Lantaran jaringan itu sendiri telah menjadi locus penentu, proses kultural juga terlepas dari sejarah dan geografi. Kata Castells: "Ekspresi-ekspresi kultural mengalami abstraksi, atau bahkan terlepas, dari sejarah serta geografi, dan kemudian menjadi sesuatu yang secara mendalam dibentuk melalui jaringan-jaringan komunikasi elektronik yang berinteraksi dengan penonton/ pemirsa, serta oleh penonton/pemirsa dalam keragaman kode dan nilai....'
Itulah yang lalu melahirkan kesan demokratis pada acara-acara seperti KDI (Kontes Dangdut Indonesia), AFI (Akademi Fantasi Indosiar), Indonesian Ido{ dan semacamnya. Dengan jumlah pesan SMS {short message services) kita merasa seolah-olah mengontrol peristiwa. Padahal, yang terjadi adalah penciptaan fantasi (fantasi), mirip seperti banyak refleksi kebudayaan yang takut menghadapi materialitas fakta, lalu bersembunyi di dalam interpretasi semiotika, citra, dan simulacra Fantasi adalah anak kandung jarak (distancé), dan pada gilirannya fantasi memperanakkan jarak.
"Dalam proses itu, jarak yang tak terjembatani diciptakan antara meta-jaringan dan para individu, aktivitas, dan corak lokalitas di seluruh dunia. Bukan bahwa orang-orang, ciri lokal dan aktivitas mereka yang konkret lenyap [seperti argumen para postmodernis]. Tetapi jelas, makna penentuan kita lenyap terbenam ke dalam logika tersembunyi meta-jaringan di mana nilai diproduksi, kode kultural diciptakan, dan kekuasaan ditentukan".
Tentu saja, pokok itu semakin asing di antara para praktisi media. Dan persis soal .tulah yang secara kuat juga sedang menandai corak media di Indonesia Berhadapan dengan persoalan seperti itu, para praktisi media televisi, misalnya' biasanya mengajukan tanggapan ini: ya, harus bagaimana lagi, karena itulah yang diminati pemirsa! « Lefs be honest, tanggapan itu bahkan tidak bisa lulus dari pengujian paling mudah. Di mana letak kerancuan? Minat yang ter/dibentuk oleh dan setelah tayangan-tayangan program tertentu dianggap sebagai penyebab pembuatan program tersebut.
Itulah yang membuat kritik almarhum Pierre Bourdieu, pemikir Perancis terdengar sangat pedas: "....proses itu membuat untuk pertama kali dalam sejarah' produk-produk kultural paling rendah menjadi seksi", dan dengan itu masyarakat terpenjara dalam tahap kanak-kanak (infantilizedy» Masalah ini pula yang rupanya membuat Bourdieu bilang:
"Televisi telah memberi sumbangan, sebesar seperti suap, bagi kehancuran etos serta keutamaan publik. Televisi semakin gandrung menampilkan orang-orang yang haus nama dan popularitas, yang kepedulian utamanya ditonton dan diberi tepuk tangan; semua itu berbalikan dengan komitmen pada etos dan kesehatan kultur publik yang hanya mungkin dibangun dengan penuh ketekunan dan tidak heboh
Melalui kecenderungan kinerja media itu, istilah 'kultur' juga bergeser menjadi hal-hal yang menyangkut gaya-hidup, selebriti, histeria massal dan berbagai citra yang berstatus simulacra Memang, seperti diajukan Castells studio-stud,o pembuat program tidak dapat dikatakan sebagai satusatunya locus penentu pembentukan selera kultural itu, lantaran dalam 'masyarakat jaringan' locus itu semakin terletak dalam "thepower offlows" sendiri. Akan tetapi, tentu hal itu tidak berarti tanpa pelaku (subjectless), seperti klaim kaum postmodernis Beberapa partisipan jaringan jauh lebih digdaya dibanding partisipan lainnya
Misalnya, jenis film yang dewasa ini menguasai dunia ada di tangan 7 perusahaan film, dan pasar industri musik di dunia dikuasai oleh 5 perusahaan musik. Sebesar 50% sampai m penghasilan studio televisi dan film di AS diperoleh dari penjualan produk mereka di luar AS.15 Jaringan adalah "tata-bahasa" (grammar) baru untuk
memahami kondisi dan arah sejarah dewasa ini, tetapi corak grammarbaru itu tentu saja bukanlah "senjata" yang bisa dipakai siapa saja. Beberapa pemakai lebih fasih dibanding lainnya.
Para praktisi media adalah medium pertarungan itu, persis karena mereka berumah dalam jaringan tersebut. Jay Rosen, seorang pemikir gerakan civic jour- nalism, telah lama merefleksikan kondisi buram media dewasa ini, seperti yang ditunjuk almarhum Pierre Bourdieu di atas. Dengan mengutip konperensi pers yang diucapkan Robert MacNeil, seorang anchortelevisi PBS, Rosen berpesan kepada para wartawan:
"Sebagai jurnalis, kita perlu ingat bahwa kita memang"observers, tetapi kita bukanlah sepenuhnya disinterested observers.... Kita bukan penonton yang terbahak menyaksikan para idiot (idiots) menentukan semua... Marilah kita coba menyelamatkan para jurnalis muda sebelum mereka berlanjut seenaknya dengan sirkus media (media circu,) atau bergabung dengan kultus infotainment... Sudah 40 tahun saya bangga menyebut diri jurnalis. Tetapi saya kira media sekarang berbau busuk (stinks)".
Berhadapan dengan kritik dari dalam rumah-tangga media sendiri itu, barangkali kita merasa panas telinga dan lalu bertanya: What? Buku ini merupakan sebuah undangan untuk memahami persoalan. Seperti dalam banyak hal lain, apologia murahan biasanya berasal dari pemahaman yang naif atas persoalan. Dan dalam dunia media, masalah itu bukannya langka, persis justru karena tuntutanite/Zmesmengkondisikan para praktisi memahami persoalannya secara sepotong-sepotong.
Dengan munculnya 'jaringan' sebagai'locusbaru pembentukan berbagai gejala, dan munculnya media sebagai perantara proses pembentukan berbagai gejala itu, para praktisi media mungkin segera berujar: "nah, itu berarti penaggungjawab berbagai persoalan yang muncul dari realitas jaringan bukan para praktisi media kan?"'Jaringan'lah yang mesti diminta pertanggungjawaban!" Buku ini bilang: justru sebaliknya! Seperti disimpulkan Castells dalam Volume I dari triloginya yang monumental itu, dengan munculnya realitas jaringan
"....sejarah bukannya berakhir dalam rekonsiliasi yang membahagiakan antara bangsa manusia dengan dirinya. Justru sebaliknya, sejarah baru mulai.... Inilah awal eksistensi baru, permulaan zaman baru, Zaman Informasi, yang ditandai oleh lepasnya budaya dari basis-basis material hidup. Inilah kondisi yang tidak dengan sendirinya menjadi saat menggembirakan. Karena, berdiri sendirian di dunia, kita terpaksa harus mengaca pada cermin realitas sejarah, dan mendapati diri bahwa ternyata kita tidak suka dengan apa yang kita lihat".IS
Ketika gugup mendapati wajah kita yang tak kita sukai itu, setidaknya terselip kabar yang melegakan: buku ini ditulis Adeline dengan bahasa yang renyah. Selamat membaca.
Jakarta, 27 September 2004
Penulis adalah pengajar Program Pasca Sarjana Sekolah Tingi Filsafat Driyarkara, lulusan dari London School of Economics
"Persis di saat para teoretisi kultural berpikir kecil-lokal, sejarah mulai bertindak global."'Bertindak lokal, berpikir global' telah menjadi slogan kaum progresif. Soalnya adalah, kita hidup dalam dunia di mana kaum kanan-konservatif bertindak global, tetapi kaum progresif malah justru berpikir lokal. Persis di saat grandnar- rative globalisasi kapitalis berderap sambil meninggalkan bangkai-bangkai korban yang berceceran di seluruh planet, para intelektual progresif bahkan berhenti berpikir dalam terminologi politik".
Dengan itu refleksi kebudayaan sedang menggali kuburnya sendiri. Mengapa hal itu menjadi persoalan? Jawab Eagleton: karena dengan itu refleksi kebudayaan memisahkan persoalan 'kultur' dari kinerja 'kekuasaan'. Dan dengan berkutat pada masalah semiotika serta keterpesonaan pada citra, refleksi kebudayaan melarikan diri dari diagnosa tentang fakta. Tentu saja hasilnya hanyalah fatamorgana. Terhadap kecenderungan itu, Eagleton menunjukkan arah yang perlu ditempuh refleksi kebudayaan ke depan: "teori kultural mesti mulai berpikir ambisius lagi". Maksud Eagleton, refleksi kebudayaan perlu mengayunkan kembali pisau analisanya untuk membedah persoalan-persoalan fundamental, dengan lingkup cakupan yang luas, dan bukan bergenit-genit dengan citra sesaat iklan, voyeurisme pada selebriti, atau fiksasi pada gaya-hidup yang didasarkan pada identitas, persis seperti isi lembar-lembar koran kita di akhir pekan. Kecenderungan terakhir itu bukanlah refleksi kebudayaan, melainkan hanya simptom "kekosongan intelektual" (intellectual vacuity) para wartawan.
Akan tetapi, kepada siapa kita dapat berguru untuk mengubah kecenderungan itu? Buku ini adalah salah satu panduan baik untuk agenda itu. Ditulis oleh seorang praktisi media, dan isinya dipertanggungjawabkan di depan komunitas akademis,
buku ini secara khusus diterbitkan sebagai gugatan kepada para praktisi, pengamat, pemikir, dan siapa saja yang terlibat dalam kinerja media. Isi buku ini merupakan hasil pembacaan kreatif atas tiga karya besar Manuel Castells, seorang pemikir sosial dan tokoh berbagai gerakan perubahan. Dalam setiap proses memahami tersimpan laku menemukan relevansi. Dalam buku ini, penulis membidikkan relevansi itu pada kinerja semua bidang media, dari radio sampai televisi, dari koran sampai teknologi dotcom.
Jika kita ingin memahami masyarakat dewasa ini dengan tetap setiap pada agenda progresif, caranya bukan seperti yang ditempuh para postmodernis - yaitu melarikan diri dari brutalitas fakta dan bersembunyi pada -text, citra, dm simulacra - melainkan dengan bertanya context apa yang telah membuat text tampak sebagai realitas otonom. Jawabnya adalah 'masyarakat jaringan' (network society). Dunia kira dewasa ini merupakan suatu masyarakat jaringan. Apa yang dimaksud kurang- lebih dapat disederhanakan begini. Bila A terkait dengan N, sedangkan N terkait dengan C, padahal C terkait dengan Y, dan seterusnya, maka network society merupakan gejala di mana proses penentuan berbagai hal tidak lagi terletak terutama pada A, C, N, atau Y, melainkan locus penentuan berbagai hal tersebut terletak pada corak kaitan itu sendiri (network). Dengan bahasa metafor yang lugas, locus penentu tidak lagi terutama terletak pada si laba-laba, melainkan pada jaring laba-laba. Atau, dalam bahasa Castells, "the power offlows takes precedence over the flows of power"?
Apa yang dimaksud dengan "penentuan berbagai hal" menyangkut semua bidang hidup kita: pengalaman batin, proses produksi dan konsumsi, cara manajemen, jenis-jenis acara televisi, pengandaan selera film dan musik, gagasan budaya, corak kekuasaan, dan sebagainya. Dari mana pergeseran itu muncul? Dari pekawinan antara revolusi teknologi informasi dan kinerja kapitalisme. Itulah yang menjelaskan mengapa dalam tata ekonomi global dewasa ini "uang hampir sepenuhnya terlepas dari proses produksi riil.... dengan meloloskan diri ke dalam labirin jejaring interaksi elektronis canggih yang bahkan tidak dimengerti manajernya sendiri". Apapun "yang dikumpulkan sebagai keuntungan (dari produsen, konsumen, teknologi, alam, dan institusi) disalurkan kembali ke meta- jaringan arus finansial itu..."; dan "hasilnya nol: kerugian membayar kepada keuntungan".
Itulah persis kecenderungan yang secara fatal juga sedang menandai refleksi kultural dewasa ini, seperti ditunjuk Eagleton. Dengan makin berkutat dalam semiotika, penanda (signifier), citra, ataupun simulacra, para pemikir kultural kemudian menyalurkan hasil tafsirannya bagi proses pembentukan meta-penanda selanjutnya. Hasilnya, dalam bahasa Eagleton, "karena takut fakta, mereka bersembunyi dalam fantasi".
Buku ini berkisah tentang sesuatu yang lebih khusus dalam proses itu. Seakan setia pada namanya, media (Latin: medium g pengantara/perantara publik) juga merupakan 'perantara' utama proses itu. Lantaran jaringan itu sendiri telah menjadi locus penentu, proses kultural juga terlepas dari sejarah dan geografi. Kata Castells: "Ekspresi-ekspresi kultural mengalami abstraksi, atau bahkan terlepas, dari sejarah serta geografi, dan kemudian menjadi sesuatu yang secara mendalam dibentuk melalui jaringan-jaringan komunikasi elektronik yang berinteraksi dengan penonton/ pemirsa, serta oleh penonton/pemirsa dalam keragaman kode dan nilai....'
Itulah yang lalu melahirkan kesan demokratis pada acara-acara seperti KDI (Kontes Dangdut Indonesia), AFI (Akademi Fantasi Indosiar), Indonesian Ido{ dan semacamnya. Dengan jumlah pesan SMS {short message services) kita merasa seolah-olah mengontrol peristiwa. Padahal, yang terjadi adalah penciptaan fantasi (fantasi), mirip seperti banyak refleksi kebudayaan yang takut menghadapi materialitas fakta, lalu bersembunyi di dalam interpretasi semiotika, citra, dan simulacra Fantasi adalah anak kandung jarak (distancé), dan pada gilirannya fantasi memperanakkan jarak.
"Dalam proses itu, jarak yang tak terjembatani diciptakan antara meta-jaringan dan para individu, aktivitas, dan corak lokalitas di seluruh dunia. Bukan bahwa orang-orang, ciri lokal dan aktivitas mereka yang konkret lenyap [seperti argumen para postmodernis]. Tetapi jelas, makna penentuan kita lenyap terbenam ke dalam logika tersembunyi meta-jaringan di mana nilai diproduksi, kode kultural diciptakan, dan kekuasaan ditentukan".
Tentu saja, pokok itu semakin asing di antara para praktisi media. Dan persis soal .tulah yang secara kuat juga sedang menandai corak media di Indonesia Berhadapan dengan persoalan seperti itu, para praktisi media televisi, misalnya' biasanya mengajukan tanggapan ini: ya, harus bagaimana lagi, karena itulah yang diminati pemirsa! « Lefs be honest, tanggapan itu bahkan tidak bisa lulus dari pengujian paling mudah. Di mana letak kerancuan? Minat yang ter/dibentuk oleh dan setelah tayangan-tayangan program tertentu dianggap sebagai penyebab pembuatan program tersebut.
Itulah yang membuat kritik almarhum Pierre Bourdieu, pemikir Perancis terdengar sangat pedas: "....proses itu membuat untuk pertama kali dalam sejarah' produk-produk kultural paling rendah menjadi seksi", dan dengan itu masyarakat terpenjara dalam tahap kanak-kanak (infantilizedy» Masalah ini pula yang rupanya membuat Bourdieu bilang:
"Televisi telah memberi sumbangan, sebesar seperti suap, bagi kehancuran etos serta keutamaan publik. Televisi semakin gandrung menampilkan orang-orang yang haus nama dan popularitas, yang kepedulian utamanya ditonton dan diberi tepuk tangan; semua itu berbalikan dengan komitmen pada etos dan kesehatan kultur publik yang hanya mungkin dibangun dengan penuh ketekunan dan tidak heboh
Melalui kecenderungan kinerja media itu, istilah 'kultur' juga bergeser menjadi hal-hal yang menyangkut gaya-hidup, selebriti, histeria massal dan berbagai citra yang berstatus simulacra Memang, seperti diajukan Castells studio-stud,o pembuat program tidak dapat dikatakan sebagai satusatunya locus penentu pembentukan selera kultural itu, lantaran dalam 'masyarakat jaringan' locus itu semakin terletak dalam "thepower offlows" sendiri. Akan tetapi, tentu hal itu tidak berarti tanpa pelaku (subjectless), seperti klaim kaum postmodernis Beberapa partisipan jaringan jauh lebih digdaya dibanding partisipan lainnya
Misalnya, jenis film yang dewasa ini menguasai dunia ada di tangan 7 perusahaan film, dan pasar industri musik di dunia dikuasai oleh 5 perusahaan musik. Sebesar 50% sampai m penghasilan studio televisi dan film di AS diperoleh dari penjualan produk mereka di luar AS.15 Jaringan adalah "tata-bahasa" (grammar) baru untuk
memahami kondisi dan arah sejarah dewasa ini, tetapi corak grammarbaru itu tentu saja bukanlah "senjata" yang bisa dipakai siapa saja. Beberapa pemakai lebih fasih dibanding lainnya.
Para praktisi media adalah medium pertarungan itu, persis karena mereka berumah dalam jaringan tersebut. Jay Rosen, seorang pemikir gerakan civic jour- nalism, telah lama merefleksikan kondisi buram media dewasa ini, seperti yang ditunjuk almarhum Pierre Bourdieu di atas. Dengan mengutip konperensi pers yang diucapkan Robert MacNeil, seorang anchortelevisi PBS, Rosen berpesan kepada para wartawan:
"Sebagai jurnalis, kita perlu ingat bahwa kita memang"observers, tetapi kita bukanlah sepenuhnya disinterested observers.... Kita bukan penonton yang terbahak menyaksikan para idiot (idiots) menentukan semua... Marilah kita coba menyelamatkan para jurnalis muda sebelum mereka berlanjut seenaknya dengan sirkus media (media circu,) atau bergabung dengan kultus infotainment... Sudah 40 tahun saya bangga menyebut diri jurnalis. Tetapi saya kira media sekarang berbau busuk (stinks)".
Berhadapan dengan kritik dari dalam rumah-tangga media sendiri itu, barangkali kita merasa panas telinga dan lalu bertanya: What? Buku ini merupakan sebuah undangan untuk memahami persoalan. Seperti dalam banyak hal lain, apologia murahan biasanya berasal dari pemahaman yang naif atas persoalan. Dan dalam dunia media, masalah itu bukannya langka, persis justru karena tuntutanite/Zmesmengkondisikan para praktisi memahami persoalannya secara sepotong-sepotong.
Dengan munculnya 'jaringan' sebagai'locusbaru pembentukan berbagai gejala, dan munculnya media sebagai perantara proses pembentukan berbagai gejala itu, para praktisi media mungkin segera berujar: "nah, itu berarti penaggungjawab berbagai persoalan yang muncul dari realitas jaringan bukan para praktisi media kan?"'Jaringan'lah yang mesti diminta pertanggungjawaban!" Buku ini bilang: justru sebaliknya! Seperti disimpulkan Castells dalam Volume I dari triloginya yang monumental itu, dengan munculnya realitas jaringan
"....sejarah bukannya berakhir dalam rekonsiliasi yang membahagiakan antara bangsa manusia dengan dirinya. Justru sebaliknya, sejarah baru mulai.... Inilah awal eksistensi baru, permulaan zaman baru, Zaman Informasi, yang ditandai oleh lepasnya budaya dari basis-basis material hidup. Inilah kondisi yang tidak dengan sendirinya menjadi saat menggembirakan. Karena, berdiri sendirian di dunia, kita terpaksa harus mengaca pada cermin realitas sejarah, dan mendapati diri bahwa ternyata kita tidak suka dengan apa yang kita lihat".IS
Ketika gugup mendapati wajah kita yang tak kita sukai itu, setidaknya terselip kabar yang melegakan: buku ini ditulis Adeline dengan bahasa yang renyah. Selamat membaca.
Jakarta, 27 September 2004
Penulis adalah pengajar Program Pasca Sarjana Sekolah Tingi Filsafat Driyarkara, lulusan dari London School of Economics
* silahkan beli buku hardcopy asli atau ebook asli untuk kualitas layout yg lebih baik dan isi ebook yg lebih lengkap




Comments
Post a Comment
. . . . . . . . . Komentar anda adalah kontribusi berarti bagi kami