Ultima Humaniora Volume 1 No 2 - 2013
Ultima Humaniora
Volume 1 No 2 - 2013 Diterbitkan oleh Universitas Multimedia Nusantara
Salam kemanusiaan!
Sidang pembaca yang budiman, edisi kedua Jurnal Ultima Humaniora akhirnya kembali hadir mengunjungi halaman intelektual Anda di paruh kedua tahun 2013 ini. Edisi kedua menampilkan sembilan artikel panjang dan sebuah resensi buku. Enam artikel pertama membahas tema sentral edisi ini (“Local Wisdom dalam era New Media,”) dan dua artikel berikutnya membahas tema-tema yang menjadi fokus kajian jurnal, yaitu soal Pancasila dan Kewarganegaraan serta soal (pengayaan) metode pembelajaran. Artikel terakhir membahas soal wacana dan kebijakan pemberdayaan perempuan ditinjau dari khasanah budaya Jawa. Resensi buku mengulas karya filsuf politik kenamaan dari Amerika Serikat, Michael J Sandel, berjudul What Money Can’t Buy (The Moral Limits of Market), terbitan 2012.
Wacana tentang “local wisdom dalam era New Media” tidak bisa dipisahkan dari konteks dan Lebenswelt budaya. Culture matters, itu sudah jelas dengan sendirinya. Kebenaran ini tidak hanya berlaku di masa lalu, namun juga di masa sekarang. Di tengah kepungan dan terpaan globalisasi, manusia dalam lokalitas dan temporalitasnya justru mencoba mencari jenis-jenis maupun sumber-sumber pemaknaan budaya yang baru, yang pada gilirannya dapat (a) menjadi benteng dari proses alienasi dan nihilisme, (b) membuahkan pelbagai local wisdom yang tidak hanya merupakan kulminasi serta kristalisasi pengalaman dan refleksi manusia (dalam kelompok serta komunitasnya), namun juga rujukan identitas terkini yang memberikan kepada manusia keberakarannya dalam dimensi ruang dan waktu yang spesifik. Prinsip universalitas serta abstraksi modern sudah mulai banyak ditinggalkan, sejauh itu menyangkut nilai, budaya, dan praksis kebijaksanaan yang mengalir daripadanya. Baik itu dalam dunia industri, periklanan, media, pariwisa-
ta, ekonomi, pendidikan, dan lainnya, kita menyaksikan gejala kembalinya pada yang lokal, yang temporal, yang spesifik. Contoh: “Rosa” dalam iklan extra joss, “gak ada lo gak rame” versi iklan rokok, terapi herbal khas daerah-daerah tertentu, menjamurnya wisata kuliner, industri kreatif berbasis budaya, dst. Amat disayangkan jika local wisdom yang melimpah ruah dalam ruang-waktu budaya Nusantara ini---yang sayangnya belum terlalu banyak digali potensi-potensinya maupun ditransformasi ke dalam bentuk-bentuk yang lebih berterima--- diaprosiasi dan dikapitalisasi oleh subjek dan pelaku asing (foreign subjects and agents) sebagai eufemisme dari istilah: “penjajahan budaya”. Pertanyaannya: Bagaimana kita mau memetakan gugus persoalan di atas dalam konteks kajian ilmu-ilmu humaniora? Sejauh mana “Media Baru” sudah menyumbangkan sesuatu untuk pelestarian dan pengalih-generasian local wisdom (atau justru keberadaan mereka mempercepat kepunahannya)? Bagaimanakah pro dan kontra mentasnya era Media Baru---dalam arti interseksi konten, teknologi, industri, dan masyarakat seperti digambarkan Prof. Henry Jenkins dalam bukunya Convergence Culture: Where Old and New Media Collide (2006)--- sejauh menyangkut keberadaan dan pengadaan kembali (repackaging) local wisdom dalam hidup kita sehari-hari? Enam artikel utama yang dimuat dalam jurnal Ultima Humaniora edisi kedua ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kunci di atas sekaligus membahas tema sentral edisi kali ini dengan menggunakan sejumlah pendekatan maupun sudut pembahasan. Dua artikel pertama membahas secara konseptual istilah local wisdom. Qusthan Firdaus dalam “Frail Local Wisdom, Robust Local Thoughts: Mapping the problems” memetakan secara konseptual sejumlah problematika yang muncul ketika kita menggunakan istilah “local wisdom.” Secara filosofis dan teliti, Qusthan membangun argumen bahwa ekspresi ‘local wisdom’ sebaiknya diakhiri karena ia tidak jernih. Persoalan pemetaan local wisdom bisa menjadi rancu khususnya ketika kita akan (1) memaknainya dengan baik; (2) membedakannya sebagai types atau tokens; (3) menanganinya sebagai properti; (4) mengapropriasinya; dan (5) menjustifikasinya. Alih-alih menggunakan istilah ‘local wisdom’ yang kabur dan serba tak pasti, Qusthan mengusulkan penggunaan istilah ‘local thoughts’ yang lebih memadai dan kokoh, baik secara filosofis abstrak maupun praksis kontekstual. Sementara itu, masih berkutat di aras abstrak teoretis, Jimmy Jeniarto juga mempersoalkan istilah ‘local wisdom.’ Baginya, diandaikan terdapat dua pemaknaan Local Wisdom. Pertama, Local Wisdom yang dimaknai sebagai pengetahuan warisan leluhur yang diturunkan melalui tradisi dan bersifat permanen di dalam berbagai era. Kedua, Local Wisdom yang dimaknai sebagai pengetahuan lokal yang merupakan hasil dari kecerdasan lokal dalam menghadapi persoalan hidup yang sifatnya senantiasa berubah sesuai lingkungan jaman. Pengetahuan ini bersifat kontekstual di dalam ruang dan waktu yang berbeda. Dalam dialektika antara dua pendekatan dan pemaknaan inilah Jimmy Jeniarto menyoroti paradoks penggunaan istilah Local Wisdom serta sejumlah skenario yang mungkin terjadi jika persaingan di antara para Local Wisdoms bisa saja mengarah pada upaya dominasi oleh satu ide tunggal. Sementara itu, empat artikel utama berikutnya mencoba melihat secara jeli praksis penggunaan istilah local wisdom dalam (1) posfenomenologi Ruangcyber untuk menggugat sekaligus membaharui realitas yang termediasi, di mana dua porosnya yaitu bahwa relasi manusia dan teknologi informasi mentransformasikan pengalaman manusia tentang dunianya dan mencipta realitas yang terkoneksi dan terdomestikasi sekaligus bahwa refleksi tentang teknologi internet sebagai perangkat hermeneutis dalam kaitannya dengan dinamika perubahan dunia aktual dan virtual penting untuk diketahui (tulisan Budi Hartanto), (2) bisnis nafsu di dunia maya serta kritik atasnya terkait dengan pemahaman yang lebih mendalam dan luhur soal cinta dan seksualitas dengan mengambil inspirasi dari pemikiran Jean-Luc Marion yang menegaskan kebenaran eksistensial bahwa seks di jagat internet adalah seks yang terlucut dari diri manusia, seks yang mekanistik, seks tanpa humanitas, seks tanpa cinta, dan sebab itulah kita diingatkan agar memulihkan kembali seks dengan mengembalikan seks pada seksualitas (tulisan Alexander Aur), (3) aktivitas berladang dan kearifan lokal manusia Dayak yang menyingkap makna spiritual gawai dan sistem (budaya) berladang berpindah-pindah yang dilakukan suku Dayak tradisional yang mencuatkan kearifan lokal dan keselarasan dengan alam dengan cara tidak merusak alam dan lingkungan hidup (tulisan R. Masri Sareb Putra), dan (4) Demokrasi dan Kekuasaan dalam Pandangan Hidup Orang Jawa yang menggarisbawahi pentingnya sejumlah konsep kunci orang Jawa berikut ini seperti primbon, olah rasa, wahyu ratu dan wangsit, tapa pepe, gentho dan balai desa (tulisan Aryaning Arya Kresna). Dua artikel setelahnya berbicara tentang metode pengajaran di tingkat Perguruan Tinggi. Hendar Putranto membahas soal perlunya mengembangkan dan memperkaya metode pengajaran Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai mata kuliah wajib di Perguruan Tinggi. Penggunaan metode partisipatoris berbasis imajinasi rekonstruktif---terinspirasi pemikiran Giambattista Vico tentang reconstructive fantasia dalam Nuova Scienza---guna memahami pengetahuan sejarah supaya lebih aktual dan relevan (misalnya: tentang kontroversi perumusan Naskah Pancasila, tentang Ideologi Pancasila) merupakan usulan yang pantas dicoba untuk melengkapi model Taksonomi Bloom yang berfokus pada pengembangan dimensi kognitif, afektif dan motorik siswa didik. Artikel yang ditulis Oscar Jayanagara membahas tentang videografi sebagai ilmu sekaligus sarana pembelajaran secara mendetil berbasiskan pengalaman penulis yang sudah teruji di lapangan. Dengan telaah atas video “Jalan Sesama” dan Sesame Street, Oscar memberikan bukti nyata bagaimana videografi tidak hanya mampu meraih target audiens penayangan di layar kaca secara signifikan namun juga menjadi cetak biru dari videografi sebagai sarana pembelajaran baik di tingkat dasar maupun lanjut.
Artikel berjudul “Does Education Empower the Indonesian Women?” yang ditulis Arif Rohman dilatarbelakangi sejarah kampanye aktivis perempuan melawan budaya patriarki di era 1960-an. Kampanye yang bertujuan untuk mencapai pemenuhan hak-hak perempuan dalam aspek hukum, politik dan sosial ini bergayung-sambut dalam konteks keindonesiaan kini. Dengan menggunakan budaya Jawa sebagai kasus, artikel ini mendiskusikan kemungkinan positif di mana pendidikan berdampak terhadap pemberdayaan perempuan sekaligus identifikasi atas faktor-faktor yang menghambat pendidikan pemberdayaan perempuan di Indonesia. Jurnal Ultima Humaniora ditutup dengan sebuah tulisan Arif Susanto mengenai resensi buku baru (terbitan 2012) karya Michael J. Sandel yang berjudul What Money Can’t Buy (The Moral Limits of Markets). Buku ini membahas kecenderungan totalisasi nalar pasar yang menempatkan segalanya sebagai komoditas. Totalisasi nalar pasar ini digugat Sandel yang lalu memperkenalkan pertimbangan moral pada apa yang diperjual-belikan di mana transaksi bukan semata persoalan utilisasi secara maksimal segi keuntungan dan manfaat, melainkan juga soal keadilan dan kepatutan moral. Hanya dengan memasukkan pertimbangan moral dan keadilanlah kita mampu menghindar dari sergapan ‘masyarakat pasar’, yang berupaya menelan seluruh relasi sosial dalam kemasan pasar. Kencangkan ikat pinggang nalar Anda agar dapat (lebih) menikmati sajian artikel yang berbobot dalam Jurnal Ultima Humaniora edisi kedua ini.
Tabik!
Tabik!




Comments
Post a Comment
. . . . . . . . . Komentar anda adalah kontribusi berarti bagi kami