Sastra Itu Api - Pidato Mario Vargas Llosa
“La literatura es fuego”, pidato Mario Vargas Llosa saat menerima hadiah sastra Premio Rómulo Gallegos pada 11 Agustus 1967 di Caracas, Venezuela, atas novel keduanya La casa verde. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari kumpulan esai Contra viento y marea Vol. I (Barcelona: Seix Barral, 1986).
Catatan penerjemah: Saat mengucapkan pidato ini, Mario Vargas Llosa masih mencanangkan diri “sosialis” dan mendukung Revolusi Kuba, dan juga masih berteman dengan Gabriel García Márquez. Karena itulah pidato ini masih menyebut-nyebut ideal “sosialisme” dan merujuk ke salah satu karakter ciptaan García Márquez, Kolonel Aureliano Buendía. Peralihan ideologis Vargas Llosa berlangsung berangsur-angsur mulai 1970-an, terutama setelah pengakuan di bawah paksaan para penulis Kuba seperti Heberto Padilla dan César López, yang menurut Vargas Llosa “bukanlah spontan, tapi direkayasa seperti pengadilan Stalinis tahun ‘30-an.” Hal ini membuatnya berpisah jalan dengan banyak kawan lamanya termasuk García Márquez. Persahabatan mereka benar-benar bubar setelah keduanya adu jotos di sebuah gedung bioskop di Mexico City. Keduanya tak pernah bertegur sapa lagi dan hanya terhubung melalui teman bersama mereka, Carlos Fuentes. Namun demikian, sekalipun ideologi politik Vargas Llosa bergeser, bisa dibilang keyakinannya tentang fungsi sosial sastra tidak, dan justru mengalami pematangan dalam esai-esainya dari periode kekaryaannya yang selanjutnya.
Download
* silahkan beli buku hardcopy asli atau ebook asli untuk kualitas layout yg lebih baik dan isi ebook yg lebih lengkap





Comments
Post a Comment
. . . . . . . . . Komentar anda adalah kontribusi berarti bagi kami